Menjauhkan Diri dari Perbuatan Riya

Wanita muslimah yang senantiasa mendapat petunjuk dan bimbingan Agamanya dia tidak akan terjerumus dalam jurang riyaa’ dan bangga diri, karna dia telah mendapat pemahaman terhadap ajaran-ajaran Agamanya yang selalu melindungi nya dan rasa takut  pada Tuhannya. Selain itu dia juga telah belajar darinya bahwa setiap gejola jiwa seorang wanita muslimah yang ingin berbuat riya’ hanya akan menghapuskan pahalanya, menjadikan amal shaleh tidak berguna dan memberikan kenistaan dan kehinaan pada pelakunya di hari kiamat kelak.

Karna Allah SWT  pada dasarnya penciptaan jin dan manusia, adalah semata – mata untuk menyembah dan beribadah pada-Nya. Sebagaimana yang telah di firmankan dalam surat AZ-Dzariyat ayat:56.
Sebagai berikut: “Dan Aku tidak menjiptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Dan penyembahan seorang hambanya tidak akan diterima kecuali jika benar-benar tulus semata-mata karna ALLah dan juga semata-mata mencari ridho-Nya, sebagaimana yang diterangkan dalam surat al-Byyinah ayat: 5
“padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatannya kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka menjalankan solat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itu agama yang lurus”.

Tatkala kebaikan wanita muslimah diwarnai riya’ atau (pamer) misalnya pamer dia senang  dipuji karna kehebatan atau kemashurannya, maka akan sia-sia amal perbuatannya tersebut, dan pahalanyapun akan terhapus karenanya. Sehingga pelakunya akan mengalami kerugian yang amat besar dan akan menderita karenanya. hal ini sesuai dengan peringatan Alloh yang disampaikan secara jelas dan pasti terhadap orang-orang yang  mensedekahkan hartanya sembari menyebut-nyebut, sehingga menyakiti perasaan sipenerimanya, dengan demikian mereka telah merusak kehormatan si penerima sedekah tersebut. Dalam surat AL-Baqoroh  ayat: 264 sebagai berikut :
“Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licinyang diatasnya ada tanah, kemudiam batu itu ditimpa hujan yang lebat, lalu jadilah ia bersih (tidak bertanah) Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang  mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petujuk kepada orang-orang yang  kafir.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*